Selasa, 04 Juni 2013

Aku dan Fantasi

Met siang guys..
Kali ini gue akan mencoba membuat artikel yang puitis.. tapi tenaang… kekocakan gw gak bakalan hilang kok, tapi untuk kali ini gw mau bernonstalgia ke masa gw SLTA dulu. Masa dimana gw dapat dengan mudah bikin kata-kata puitis berkat guru bahasa gue yang baik dan penyabar... hehe…

Cekidot!!!

Aku dan fantasi


Telah lama kubutakan mataku terhadap kejinya dunia nyata. Biarkan jiwa ini melayang mengarungi sebuah dunia. Ya, dunia yang asing. Ragaku berada di dunia nyata. Tapi jiwaku terus melayang mencari ketenangan. Hingga tiba suatu masa kutemukan dunia fantasi. Dunia dimana aku dapat mencurahkan segala rasa, membuang segala asa dan mensyukuri nikmat Yang Kuasa.

Mungkin kau berfikir aku adalah pecandu, aku adalah pemabuk.

Bukan, aku bukan orang seperti itu. Aku bukan budak dunia, aku bukan budak harta dan aku bukan budak setan.

Aku dan dunia fantasiku berbeda dengan pecandu dan pemabuk yang berfantasi karena obat & minuman. Aku adalah diriku, sesosok manusia biasa yang penuh dengan kekurangan. Fantasi adalah pola fikirku yang kubuat seperti OS yang memiliki kemampuan multi-tasking. Aku dapat mendouble konsentrasi, aku dapat menghidden masalah & aku dapat memback up solusi. Sehingga aku dan fantasi menjadi suatu perpaduan yang sempurna yang menjadikan diriku selalu bahagia, seolah tanpa masalah, sangat tenang & mampu berekspresi tidak sesuai dengan perasaan.

Ya, itulah muslihatku. Mulutku yang tersenyum dan tertawa bukan berarti aku benar-benar bahagia, mataku yang menangis belum tentu hatiku sedih, ragaku yang selalu hadir dengan kondisi fit belum tentu sehat, lidahku yang berkata “aku tidak apa-apa” belum tentu aku tak punya masalah, ekspresiku yang biasa saja bukan berarti aku tak suka, sifatku yang acuh bukan berarti aku tak sayang. Itu semua kulakukan agar kalian tak perlu mengkhawatirkanku dan kalian tak perlu mempedulikanku. Biarkan aku ada untukmu, kau tak perlu ada untukku. Ku tak ingin diriku yang hina ini menjadi beban untukmu. Sungguh, sang Pencipta Maha Tau.

sudah saatnya ku buka mata kembali ke dunia nyata.

Lelah rasanya ku arungi dunia fantasi yang kadang membuatku tak dapat terlelap dikala malam mendekap, tak dapat tenang dikala pagi menjelang, tak dapat bersemedi tenangkan hati dikala ku seorang diri. Fikirku terus menggali tanpa henti untuk mendapatkan sebuah solusi.

Aku ingin merasakan semangkuk perhatian, segelas cinta yang hangat dipadu dengan sesendok sayang yang manis. Agar aku terhindar dari dinginnya dunia nyata.

Aku ingin tertawa lepas saat ku bahagia, ku ingin menangis saat ku bersedih. Ku akan istirahat dikala ku sakit, aku ingin menunjukkan ekspresi yang sebenarnya dan aku ingin menunjukkan kasih sayangku. Dan semua itu tanpa memikirkan orang lain. Bukankah ini sifat normal seorang manusia? Egois memang, sadar atau tidak mungkin kau sering melakukannya. Tapi sebaliknya, hal itulah yang sangat jarang ku rasakan. Ku ingin merasakannya walau hanya sekali dalam hidupku.

Mungkin ini saatnya aku kembali menjadi diriku, aku yg sebenarnya. Bukan berarti hari-hari yang lalu aku bukan diriku. Tapi itu aku dengan segerombolan fantasi yang bersenjatakan panah muslihat. Muslihat yang kubuat untuk membalikkan ilusi menjadi kenyataan. Sebuah panggung sandiwara yang dapat kuatur sesuka hati.

Bukan, itu hanya sebagian diriku, separuh jiwaku dan segelintir hasratku.

Jangan vonis aku begitu mudah. Karena mungkin kau sedang berada dalam muslihatku. Aku dapat membuat penjara untukmu, aku dapat membuatmu melayang di awan, bahkan aku dapat membawamu ke surga. Karena akulah sutradaranya. Tapi itu hanyalah muslihat, fatamorgana yg mematikan.

Inilah saatnya ku rombak semua itu. Aku kembali, dengan semua kekurangan yang kumiliki. Meratapi diri yang penuh dengan ketidaksempurnaan.


Aku tak akan meninggalkan dunia fantasi yang membuatku dapat bertahan di dunia nyata. Tapi aku akan membumbuinya dengan sari pati dunia nyata, dunia dimana ragaku menetap hingga akhir hayatku. Biarkan fantasi dan nyataku menyatu dalam jiwaraga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar